Beberapa hari ini, suhu udara turun, dan sudah akan berakhir musim ini, kehidupan di kota Pasirbumi juga semakin lama membaik.
Angin yang sejuk, keluarga yang harmonis, moodkeluarga Tanjaya juga sangat baik.
Hari yang begitu indah ini, sayang sekali jika hanya dilewatkan di rumah.
Kebetulan juga weekend, Ibu Tanjaya berencana membawa seluruh keluarga untuk piknik, lokasinya adalah pemandangan yang indah dan cocok untuk liburan di Blue sea villa.
Dan yang terpenting, itu adalah bisnis industry milik keluarga sendiri, sangat praktis tinggal disana, mau tinggal berapa lama pun tak masalah, dan tak perlu mengeluarkan uang lagi.
Di saat keluarga besar bergegas bersiap-siap pergi, Carlson menerima telpon, dan katanya ada hal sangat penting yang harus ia sendiri yang meneyelesaikannya, jadi ia menyuruh yang lain untuk berangkat dulu, dan nanti ia akan menyusul kesana.
Ariella menggandeng Riella kecil, sekali melangkah ia sekali menoleh juga, dan sampai berjalan agak jauh, dia tiba-tiba berlari kembali :”Carlson, ada hal penting apakah?”
“Memang kau pikir ada masalah apa?” Carlson hanya mengelusnya, dan berkata :”Terjadi sesuatu di Aces dan harus aku sendiri yang mengurusnya, kau bawa Riella kecil pergi dengan Ayah Ibu dulu, nanti aku agak malam akan menyusul.”
“Baiklah.” Selalu, Ariella tak ingin menjadikan dirinya sebuah beban bagi Carlson, dia sibuk dengan pekerjaannya, jadi selalu Ariella yang membantunya menjaga keluarganya.
“Ibu, Riella mau duduk dengan Bibi.” Ketika Riella kecil melihat Ibunya yang tak tega meninggalkan ayahnya, dia sangat memahami dan berlari mencari Bibinya.
“Baiklah kalau begitu aku pergi dulu, kau hati-hati juga ya.” Ariella berpesan lagi, tak tahu kenapa, dulu mereka juga bukannya tak pernah berpisah, tapi kenapa hari ini seperti tak rela melepaskannya.
“Baiklah penurut!” Carlson menunduk dan menciumnya,” Cepat pergi, jangan biarkan Riella menunggu lama.”
“Ehm.” Ariella mengangguk dan bergegas pergi, baru berjalan 2 langkah sudah menoleh lagi dia, “Kalau kau sudah selesai sibuk, cepat kemari ya, tak ada kau, kami semua bermain pun juga seperti ada yang kurang.”
“Oke.” Jawab Carlson tersenyum sambil melambaikan tangan padanya.
Setelah melihat segerombolan orang itu pergi, Carlson segera menelepon Henry:” Cepat kirimkan alamatnya padaku.”
Akhirnya orang mereka berhasil menghubungi Fernando, dan Fernando juga sudah setuju akan bertemu dengannya, dan mereka janjian di siang hari ini.
Masalah lain, Carlson bisa meletakannya dulu, tapi masalah ini berhubungan dengan Ariella, dia tak boleh menundanya.
Tak lama Henry mengirimkan alamat, Carlson bahkan tak bersama supir, ia sendiri yang pergi menyetir ke tempat itu.
Sebelum identitas Fernando terbongkar, sebelum menemukan bukti apa yang sudah dilakukan oleh Fernando, Carlson menyuruh Henry untuk merahasiakan semuanya ini, semakin sedikit orang yang mengetahui nya semakin aman, dan terutama tak boleh membiarkan Darwin mengetahuinya.
Jika dilihat dari sikap Darwin yang sering meledak-ledak, kalau benar ia sampai bertemu dengan orang ini, kemungkinan ia juga akan mengambil pistol dan langsung menembakkannya pada orang ini.
Fernando mengajak Carlson bertemu di sebuah pulau di barat kota pasirbumi, pulau tersebut berjarak kurang lebih 30 km dari tepi pantai, ini sebuah pulau yang masih belum terbuka untuk umum, di pulau tersebut tak ada orang, mungkin saat ini hanya ada beberapa penjelajah yang berada disana.
Fernando bisa menyembunyikan identitasnya selama bertahun-tahun dan tak ada orang yang mengetahuinya, bahkan ia di Pasirbumi membunuh orang, menculik Efa, bahkan orang-orang Darwin dan orang-orangnya sendiri pun tak bisa menemukannya, sepertinya tempat dimana ia tinggal benar-benar sangat membantunya.
Dalam perjalanan, Henry menelepon: “Tuan Carlson, kau pergi sendiri sedikit tidak aman. Aku akan mengutus orang untuk mengikutimu, takutnya jika terjadi sesuatu????”
“Memang akan terjadi hal apa?” tanya Carlson.
Fernando adalah ayah kandung dari Ariella, pasti dia berharap Ariella baik-baik saja, kalau ia berharap Ariella baik-baik saja ia tak akan mungkin menyakiti suami anaknya itu.
Pandangannya pada Fernando sudah sangat yakin, sehingga ia tak perlu menyiapkan apapun.
Dia ingin segera bertemu dengan Fernando, dan menasehati Fernando, dan menyuruh Fernando agar tak usah seperti ini lagi diam-diam menjalani kehidupannya, membantu Fernando mengembalikan identitas aslinya, dan hidup baru seperti orang pada normalnya.
“Baiklah. Aku akan membawa orang untuk menunggu mu disini.” Meskipun Henry khawatir keselamatan Carlson, tapi ia juga tetap tak berani melawan perintah dari Carlson.
Lagipula, dia juga percaya pada kemampuan Carlson, orang biasa, selain Daiva yang bisa melemparkan panahnya diam-diam, tak ada orang lain lagi yang bisa melukai bos besar mereka.
Baru saja Carlson menutup telpon Henry, Ariella meneleponnya, dan ketika ia melihat nomer Ariella, bibirnya tak sadar terangkat, suaranya sangat lembut: “Baru saja meninggalkanku sesaat, kau sudah rindu padaku?”
“Tak benar.” Suara Ariella dari telpon menusuk sampai ke telinga Carlson.
Jawab Carlson lagi sambil tertawa:”Jadi ada masalah apa?”
Jawab Ariella :”Kau sebenarnya kemana sih? Ayah Ibu menyuruh aku menemanimu, menemanimu sampai pekerjaanmu selesai, lalu kita berdua menyusul mereka bersama.”
Carlson menjawabnya lembut: “Ariella, kau pergi dulu dengan mereka, setelah aku selesai dengan kesibukanku ini aku akan mencari kalian. Kau mengamatiku seperti ini, apa kau khawatir aku di belakangmu mencari wanita lain lagi?”
“Iya. Aku khawatir.” Dalam hatinya tetap tak tenang, jadi ia menyuruh Ibu untuk membawa Riella kecil pergi dulu, ia ingin menemani di sisi Carlson, sampai selesai sibuknya dan bisa pergi bersama kesana.
Baru saja berpisah dengan Carlson beberapa puluh menit, hatinya sangat gugup dan seperti ingin meneriakan sesuatu dari tenggorokannya.
Kalau hatinya terus menerus panik seperti ini, pasti akan ketahuan oleh mereka termasuk Ibu Carlson, dan pasti nanti pada akhirnya mereka juga akan panik seperti dia, jadi lebih baik ia menemani Carlson saja, lalu baru pergi menyusul yang lain.
Carlson ingin menolak, tapi mobil Ariella sudah mengikutinya dari belakang, kalau ia tetap sekali lagi menolak, Ariella sangat cerdas dan ia juga bisa memikirkan hal lain.
Carlson mengerutkan keningnya dan berpikir sejenak, ah lagipula Fernando adalah ayah dari Ariella, sebagai ayah dan anak mereka berdua juga cepat atau lambat akan bertemu.
Tepatnya, kenapa Fernando akhirnya setuju bertemu dengannya, dan rela untuk mengungkapkan base camp nya selama ini, alasannya pasti jelas karena Ariella.
Karena berpikir seperti itu, Carlson tak bingung lagi, jadi dia mengajak Ariella pergi bersama, biarkan ia bertemu lebih awal dengan orang tua kandungnya yang dari awal ia tak pernah bertemu, ini bukanlah sebuah hal yang mudah.
Ariella naik ke mobil Carlson, duduk di samping kursi pengemudi, tangan Carlson yang satunya menggenggam tanganya, dan berkata: “Sebenarnya aku bukan mau pergi ke Aces, tapi aku akan bertemu dengan seorang misterius. ”
“Kenapa sepertinya misterius sekali, siapa yang ingin kau temui?” jangan-jangan kenapa hatinya selalu tak tenang hari ini, disebabkan karena Carlson akan bertemu dengan orang misterius itu?
Hari ini cuacanya sangat bagus, mood orang-orang juga sangat senang, moodnya pun juga baik-baik saja. dan di saat Carlson menerima telpon dan berkata agar mereka pergi ke Blue sea villa terlebih dulu, ia baru merasa gelisah.
“Kalau kau mau pergi denganku, jangan banyak tanya, kalau kau sudah melihat orangnya kau akan tahu.” Sebelum bertemu dengan Fernando, dan perubahan yang banyak terjadi, dia tak ingin memberitahu Ariella siapa orang yang akan mereka temui sebenarnya.
“Carlson, kalau tidak kita ketemu dengan orang itu di lain kesempatan saja. aku tak tahu kenapa, hatiku selalu gelisah dari tadi.” Siapa orang misterius itu, Ariella sama sekali tak peduli, dia hanya peduli keselamatan Carlson.